Komunitas Hitam Putih

komunitas yang terbentuk dalam ketiadaannya

Arsip untuk ‘nafsiyyah’ Kategori

Syaitan Ikut Mabit & Makan Bersama

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juli 12, 2008

Oleh Ihsan Tandjung

Salah satu karakter utama seorang bertaqwa ialah beriman kepada perkara yang ghaib. Seorang muttaqin tidak hanya meyakini adanya alam nyata, tetapi juga mengimani alam ghaib yang tidak tampak secara kasar. Salah satu makhluk halus yang termasuk alam ghaib adalah makhluk ciptaan Allah subhaanahu wa ta’aala bernama syaitan. Syaitan tidak dapat dilihat manusia namun mereka dapat melihat dan mengganggu kita.

يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-A’raaf ayat 27)

Syaitan merupakan musuh Allah subhaanahu wa ta’aala dan musuh orang-orang beriman. Mereka merupakan keturunan iblis yang telah menyebabkan bapak ummat manusia yakni Nabiyullah Adam ’alaihis-salam tergelincir sehingga dikeluarkan Allah subhaanahu wa ta’aala dari surga dan ditempatkan di muka bumi yang fana. Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kita agar waspada menghadapi tipu-daya syaitan. Allah ta’aala juga menyuruh kita memperlakukan syaitan tanpa kompromi dan selalu memelihara spirit permusuhan dengannya.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Faathir ayat 6)

Syaitan sangat serius dan berambisi mengajak manusia menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala sebab mereka mewarisi perjuangan nenek-moyangnya Iblis yang telah bertekad dihadapan Allah ta’aala untuk menyesatkan manusia dengan taktik menjadikan manusia memandang baik perbuatan durhaka atau maksiat kepada Allah ta’aala di muka bumi.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

”Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”” (QS Al-Hijr ayat 39-40)

Berdasarkan ayat di atas syaitan ternyata tidak berdaya ketika berhadapan dengan manusia yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah ta’aala. Sebab orang yang mukhlis adalah orang yang tidak perlu dibujuk lagi untuk beribadah dan beramal sholeh. Mereka mengerjakan semuanya semata karena ingin meraih Ridha Allah ta’aala. Mereka sudah bersih dari berbagai kepentingan dunia dalam berbuat kebaikan. Menghadapi yang seperti ini syaitan jelas kehabisan akal. Sebab syaitan hanya sukses menggoda orang yang masih bisa diiming-iming dengan berbagai hal yang bersifat duniawi yang fana. Namun bila seseorang telah menyadari dan meyakini bahwa dunia ini hanya mengandung kesenangan yang menipu dan bahwa akhiratlah tempat berharap yang sejati, maka syaitan jelas kehabisan bahan bakar untuk menyesatkannya.

Salah satu tipu-daya yang syaitan sering lakukan ialah membuat seorang manusia lupa dzikrullah (mengingat Allah). Lupa mengingat Allah ta’aala bisa mengundang kehadiran syaitan ke dalam rumah kita sehingga mereka leluasa menginap, bahkan leluasa menyantap dan menikmati makanan kita padahal tidak pernah kita niatkan membagi mereka.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya dia pernah mendengar Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah ta’aala ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya, maka syaitan akan berkata kepada teman-temannya: ‘Tidak ada tempat bermalam maupun makan malam untuk kalian di sini.’ Tetapi sebaliknya, apabila ia masuk ke dalam rumahnya tanpa menyebut nama Allah pada waktu masuknya, maka syaitanpun akan berkata: ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam’. Dan bila ia tidak menyebut nama Allah ta’aala ketika menghadapi makanannya, maka syaitanpun berkata: ’Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam sekaligus’.”(HR Muslim 10/293)

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami lalai mengingatMu tatkala kami pulang dan masuk ke dalam rumah kami sendiri agar syaitan tidak ikut bermalam di rumah kami.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami lalai mengingatMu tatkala kami menghadapi santapan makan kami agar syaitan tidak ikut serta menyantap makanan kami.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan mukhlasin.
Amin ya Rabb.-

Ditulis dalam nafsiyyah | Bertanda: | Leave a Comment »

Penghancur Agama

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 7, 2008

Hancurnya agama Anda, kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, adalah karena 4 hal: (1) Anda tidak mengamalkan apa yang Anda ketahui; (2) Anda mengamalkan apa yang Anda tidak ketahui; (3) Anda tidak mencari tahu apa yang Anda tidak ketahui; (4) Anda menolak orang yang mengajari Anda apa yang tidak Anda ketahui (Jailani, Al-Fath ar-Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, hlm. 43. Beirut: 1998).

1. Tidak mengamalkan apa yang diketahui.

Allah Swt. telah mencela orang yang banyak tahu agama, bahkan banyak ngomong masalah agama, tetapi tidak melaksanakan apa yang dia ketahui dan sering dia diomongkan: Sungguh besar kebencian Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (TQS ash-Shaff [61]: 3).

Lebih dari itu, banyak tahu agama tetapi tidak mengamalkannya adalah sia-sia. Sebabnya, Allah Swt. menilai seseorang bukan dari ilmunya (yang banyak), tetapi dari amalnya: (Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji manusia, siapa yang terbaik amalnya (TQS al-Mulk [67]: 2).

Dalam ayat ini, Allah menggunakan frasa ahsanu-’amala (amal terbaik), bukan aktsaru-’ilma (ilmu terbanyak). Maknanya, sebagaimana kata Nabi saw., “Selalu waspada (wara’) terhadap larangan-larangan Allah dan senantiasa bersegera menjalankan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XVIII/207).

Karena itu, sangat disayangkan jika orang banyak tahu agama tetapi sedikit mengamalkan agamanya. Misal: Masih banyak Muslim yang tahu bahwa shalat, shaum dan zakat itu wajib, namun mereka tidak melaksanakannya. Banyak Muslimah yang tahu menutup aurat/berjilbab itu wajib, tetapi enggan melakukannya. Banyak pejabat, pegawai pemerintah, polisi, jaksa, hakim dll yang tahu suap dan korupsi itu haram/dosa, namun mereka tetap melakukannya. Banyak Muslim yang tahu bahwa menegakkan syariah Islam itu wajib, tetapi tidak berusaha memperjuangkannya, seolah-olah itu bukan urusannya. Banyak ulama yang tahu menegakkan Khilafah itu wajib. Mereka pun tahu kewajiban menegakkan Khilafah itu merupakan Ijmak Sahabat dan ijmak para ulama salafush-shalih. Namun, alih-alih berusaha menegakkannya, bahkan ada yang menganggap upaya tersebut tidak relevan untuk saat ini, ’memecah-belah’, ’mengancam’ NKRI, dll. Banyak tokoh kiai yang tahu bahwa riba itu haram tetapi tidak pernah mencegah Pemerintah yang nyata-nyata berutang ke luar negeri dengan bunga (riba) yang sangat ’mencekik’. Banyak pula aktivis dakwah yang tahu menjaga amanah dan memelihara akad itu wajib, tetapi sering melalaikan dan mengabaikannya.

2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui.

Tidak sedikit orang yang awam agama melakukan banyak hal yang dia sendiri tidak tahu status hukumnya; apakah halal atau haram. Misal: Tidak sedikit Muslim berbisnis saham/valas, melakukan transaksi kredit barang lewat lembaga leasing seperti menjamur saat ini, terlibat dalam bisnis asuransi, menjadi staf keuangan bank berbasis riba, mengadu untung dalam kuis via sms, dll. Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang memandang baik profesi sebagai artis (penyanyi, penari, pemain film/sinetron dll)—yang biasanya akrab dengan atraksi membuka aurat, berkhalwat dan ber-ikhtilat, serta ragam maksiat lainnya; bahkan mereka berlomba-lomba meraihnya. Tidak sedikit pula Muslim yang memandang mulia demokrasi dan HAM, mempraktikkannya, bahkan bangga menjadi pejuangnya. Semua itu mereka lakukan karena mungkin tidak tahu keharamannya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak (haram, pen.).” (HR Muslim).

3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya.

Banyak Muslim/Muslimah yang sadar dirinya awam dalam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama (taffaquh fi ad-din). Mereka seolah enjoy dengan kebodohannya dalam agama. Tidak sedikit pula hal ini melanda para aktivis dakwah. Misal: tidak sedikit aktivis dakwah yang malas belajar bahasa Arab, padahal mereka tahu mempelajarinya sangat urgen dalam upaya memahami agama demi bekal dakwah mereka; bahkan mereka tahu di antara faktor kemunduran umat adalah karena diabaikannya bahasa Arab.

4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya.

Tidak sedikit Muslim yang—karena kesombongannya—menolak ketika orang lain mengajari (baca: mendakwahi)-nya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), “Sombong itu menolak kebenaran.” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Tidak sedikit pula yang enggan belajar kepada orang lain hanya karena orang lain itu lebih muda, karena lebih rendah tingkat pendidikan formalnya, karena dari kelompok/mazhab/harakah/partai yang berbeda, atau karena faktor-faktor lain.

******

Keempat hal di atas memang telah menghancurkan agama pada diri seorang Muslim ataupun di tengah-tengah masyarakat.

Akibatnya nyata: Hukum-hukum Allah dicampakkan dan dijauhkan. Hukum-hukum thaghut diterapkan dan dilestarikan. Kewajiban-kewajiban agama banyak ditinggalkan. Larangan-larangannya sering dilakukan dan bahkan jadi kebiasaan. Yang halal disembunyikan. Yang haram ditonjolkan. Yang sunnah enggan diamalkan. Yang bid’ah malah dibesar-besarkan. Adat menjadi ibadat. Ibadat bercampur dengan khurafat dan maksiat.

Demikianlah, akhirnya Islam sekadar sebutan; al-Quran sekadar jadi bacaan; as-Sunnah pun terlupakan.

Saat itu, sebagaimana isyarat Nabi saw., Islam kembali menjadi sesuatu yang asing, persis sebagaimana awal kedatangannya. Sabda Nabi saw. “Islam mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan nanti akan kembali dianggap asing. Berbahagialah orang-orang yang dipandang asing, yakni mereka yang selalu melakukan perbaikan-perbaikan di tengah-tengah masyarakat yang berlomba-lomba melakukan kerusakan-kerusakan.” (HR Ahmad).

Wama tawfiqi illa billah. [Arief B. Iskandar]

Ditulis dalam nafsiyyah | Bertanda: | Leave a Comment »

Renungan…

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Mei 16, 2008

Sebuah tulisan yg sangat menyentuh sanubari, dari majalah Tarbawi, edisi 177. Seperti ini tulisannya :

Taubat kita diterima hanya karena kasih sayang Allah

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ketika seorang hamba yang berlumuran dosa menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, “Wahai Tuhanku.” Maka malaikat buru-buru menghalangi suara orang itu agar tidak sampai ke langit. Begitu si hamba mengulanginya, “Wahai Tuhanku,” malaikat tetap menutupi suara itu. Sampai pada panggilan ke empat, Allah berfirman, “Sampai kapan kalian menghalangi suara hamba-Ku untuk sampai pada-Ku? Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku.”

Allah kemudian berfirman, “Wahai anak Adam, Aku telah menciptakanmu dengan tangan-Ku. Aku bimbing engkau dengan nikmat-Ku, tetapi engkau menyalahi Aku dan bermaksiat kepada-Ku. Jika engkau kembali pada-Ku maka Aku terima taubatmu. Dimanakah engkau bisa mendapatkan Tuhan seperti Aku? Akulah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah juga berfirman,”Wahai hamba-Ku, Aku telah mengeluarkan kalian dari tidak ada menjadi ada, Aku juga menciptakan untukmu pendengaran, penglihatan dan fikiran. Wahai hamba-Ku, Aku tutupi aibmu tetapi engkau tidak sedikitpun merasa takut kepada_ku. Aku senatiasa mengingatmu, tetapi engkau melupakan-Ku. Aku malu kepada mu, tetapi engkau tidak pernah merasa malu kepada-Ku. Siapakah yang lebih besar kasih sayangnya dari Aku? Siapakah yang pernah datang mengetuk pintu-Ku lalu Aku tidak membukanya untuknya? Siapakah yang meminta kapada-Ku yang tidak Ku beri? Apakah Aku ini Dzat Yang Bakhil sampai hamba-Ku begitu bakhilnya kepada-Ku?

Kepada Daud as, Allah berfirman,” Andaikan orang – orang yang berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, niscaya mereka akan meleleh karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikian lah cinta-Ku kepada orang – orang yang berpaling, maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yang datang kepada-Ku?”

Dari tulisan ini, timbul sebuah kesadaran, bahwa sesungguhnya kita merindukan Dia Yang Maha Pengasih Dan Penyayang, yang rahmatNya tak terbatas. Dia merindukan jiwa-jiwa untuk pulang kepadaNya.

Kehidupan dunia begitu menyilaukan, membuat kesadaran akan adanya Sang Maha Pengatur dan tempat kita akan kembali tersisihkan, namun karena cinta-Nya yang tak terkira, kita masih diberiNya udara untuk hidup, masih diberi rezeki, dan jutaan nikmat yang tak terbatas. Begitu besar cinta-Mu.

Engkau tunjukkan jalan pulang, padahal terkadang Engkau terabaikan, Engkau terangi ruang hati yang gelap, walaupun terkadang Engkau tersisihkan. Astagfirullahal adzim….

Itu tak kan terulang lagi,,

I love You God…

Love You more then everything,,

Bait – bait ini,,untuk Mu, from the deepest of my heart….

With my body……….

Mind……….

And Soul……….

Disetiap langkah ku , ku kan slalu memikirkan diriMu..

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cinta-Mu..

Janganlah Kau tinggalkan diri ku..

Takkan mampu kuhadapi semua..

Hanya bersamaMu ku akan bisa..

Kau adalah darahku..

Kau adalah jantung ku..

Seribu mimpi berjuta sepi hadir bagai teman sejatii

Diantara lelahnya jiwa dalam resah dan air mata

Kupersembahkan kepada-Mu ..

Yang terindah dalam hidupku..

Meski ku rapuh dalam langkah..

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu..

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu

Dalam dada kuharap hanya diriMu yang bertahta..

Ku rindukan sinar suci Mu yang mulia..

Dan kuharapkan belai kasih Mu..

Agar musnah semua keangkuhan diriku..

Dan  kulepaskan dari sifatku..

Ditulis dalam nafsiyyah | Bertanda: | Leave a Comment »