Komunitas Hitam Putih

komunitas yang terbentuk dalam ketiadaannya

Kepala Bappenas: BBM Diusulkan Naik Tiap Bulan Tahun 2009

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 22, 2008

Kepala Bappenas: BBM Diusulkan Naik Tiap Bulan Tahun 2009 PDF Cetak E-mail
Suara Islam
Wednesday, 18 June 2008

Suara-Islam Online–Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas merekomendasikan menaikkan harga BBM naik lima persen per bulan tahun 2009.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional mengatakan, langkah ini perlu untuk mengurangi defisit APBN 2009 karena Pemerintah sendiri mengalami kesulitan mendanai defisit sebesar 83 koma 5 trilyun tersebut.

Paskah Suzetta mengatakan upaya pemotongan anggaran belanja kementerian dan lembaga negara juga sulit dilakukan karena yang tersisa saat ini tinggal komponen utama seperti pembayaran gaji dan biaya rutin.

Satu-satunya cara, menurut Paskah, adalah kembali mengurangi subsidi BBM, yang diusulkan dilakukan secara bertahap.

Usul Bappenas ini diajukan jika harga minyak lebih dari 120 dolar per barel.

Paskah mengakan jika kebijakan pengurangan subsidi bertahap ini diterapkan subsidi pemerintah untuk BBM tetap bertahan di angka Rp 132,1 triliun.

Sebelumnya, pemerintah telah berkali-kali menaikkan harga BBM. Terakhir, di akhir Mei 2008 lalu, kenaikan harga BBM sebesar 28,7 persen. Dengan kenaikan harga BBM ini penderitaan rakyat semakin menjadi.

Banyak pakar yang menyatakan bahwa alasan pemerintah menaikkan harga BBM ini hanyalah dalih untuk melayanikepentingan perusahaan asing sambil melepaskan diri dari kewajibannya mengurusi rakyat. [im/www.suara-islam.com]

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

HPH Hanya Dimiliki 20 Konglomerat

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 22, 2008

HPH Hanya Dimiliki 20 Konglomerat
Selasa, 17 Juni 2008 | 16:44 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Hutan tropis di Indonesia sejak 1997-2000 mengalami proses pengurangan atau deforestri 2,83 juta hektar per tahun. Ironisnya, setelah dikelompokkan, jumlah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) ternyata hanya dimiliki sekitar 20 konglomerat kehutanan.

“Artinya, setiap konglomerat menguasai sumberdaya hutan untuk dieksploitasi lebih dari satu juta hektar,” kata H San Afri Awang saat menyampaikan pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Balai Senat UGM, Selasa, (17/6). Ketua Jurusan Manajemen Hutan ini menyampaikan pidato berjudul “Deforestasi dan Konstruksi Pengetahuan Hutan Berbasis Masyarakat”.

Pemberian izin bagi pemegang HPH pada era Orde Baru, menurut San Afri, menjadi babak baru sistem eksploitasi hutan alam tropika di luar Jawa yang dimulai secara menyeluruh pada 1968. Sampai tahun 2000, jumlah HPH di Indonesia mencapai sekitar 600 unit dengan area hutan produksi seluas 64 juta hektar.

Bertambahnya jumlah unit HPH yang beroperasi di Indonesia, maka jumlah kayu yang ditebang juga meningkat. Ia memaparkan, pada periode 1960-1965 sebanyak 2,5 juta m3 log ditebang, 1970 sebanyak 10 juta m3 log, dan 1987 mencapai 26 juta m3 log. Pada 2007, penebangan kayu yang diperbolehkan dari hutan tropis sekitar 9 juta m3.

“Dengan gambaran seperti itu, deforestri dan degradasi hutan tak dapat dihindarkan karena pemerintah memerlukan devisa untuk pembangunan nasional,” ujar San Afri. Bernarda Rurit

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

Oo… Ternyata Pemerintah Berbohong…

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 7, 2008

Pemerintah selama ini menyatakan kita net impor sehingga dampak kenaikan harga minyak mentah dunia berakibat pada bertambahnya beban subsidi. Bahkan beberapa waktu yang lalu presiden SBY mengatakan mempertimbangkan agar Indonesia keluar dari OPEC dengan alasan produksi minyak Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan minyak nasional lagi. Benarkah? Teryata data dari Departemen ESDM berikut menunjukan sebaliknya. Pemerintah berbohong? Untuk apa berbohong?

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

Penghancur Agama

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 7, 2008

Hancurnya agama Anda, kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, adalah karena 4 hal: (1) Anda tidak mengamalkan apa yang Anda ketahui; (2) Anda mengamalkan apa yang Anda tidak ketahui; (3) Anda tidak mencari tahu apa yang Anda tidak ketahui; (4) Anda menolak orang yang mengajari Anda apa yang tidak Anda ketahui (Jailani, Al-Fath ar-Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, hlm. 43. Beirut: 1998).

1. Tidak mengamalkan apa yang diketahui.

Allah Swt. telah mencela orang yang banyak tahu agama, bahkan banyak ngomong masalah agama, tetapi tidak melaksanakan apa yang dia ketahui dan sering dia diomongkan: Sungguh besar kebencian Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (TQS ash-Shaff [61]: 3).

Lebih dari itu, banyak tahu agama tetapi tidak mengamalkannya adalah sia-sia. Sebabnya, Allah Swt. menilai seseorang bukan dari ilmunya (yang banyak), tetapi dari amalnya: (Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji manusia, siapa yang terbaik amalnya (TQS al-Mulk [67]: 2).

Dalam ayat ini, Allah menggunakan frasa ahsanu-’amala (amal terbaik), bukan aktsaru-’ilma (ilmu terbanyak). Maknanya, sebagaimana kata Nabi saw., “Selalu waspada (wara’) terhadap larangan-larangan Allah dan senantiasa bersegera menjalankan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XVIII/207).

Karena itu, sangat disayangkan jika orang banyak tahu agama tetapi sedikit mengamalkan agamanya. Misal: Masih banyak Muslim yang tahu bahwa shalat, shaum dan zakat itu wajib, namun mereka tidak melaksanakannya. Banyak Muslimah yang tahu menutup aurat/berjilbab itu wajib, tetapi enggan melakukannya. Banyak pejabat, pegawai pemerintah, polisi, jaksa, hakim dll yang tahu suap dan korupsi itu haram/dosa, namun mereka tetap melakukannya. Banyak Muslim yang tahu bahwa menegakkan syariah Islam itu wajib, tetapi tidak berusaha memperjuangkannya, seolah-olah itu bukan urusannya. Banyak ulama yang tahu menegakkan Khilafah itu wajib. Mereka pun tahu kewajiban menegakkan Khilafah itu merupakan Ijmak Sahabat dan ijmak para ulama salafush-shalih. Namun, alih-alih berusaha menegakkannya, bahkan ada yang menganggap upaya tersebut tidak relevan untuk saat ini, ’memecah-belah’, ’mengancam’ NKRI, dll. Banyak tokoh kiai yang tahu bahwa riba itu haram tetapi tidak pernah mencegah Pemerintah yang nyata-nyata berutang ke luar negeri dengan bunga (riba) yang sangat ’mencekik’. Banyak pula aktivis dakwah yang tahu menjaga amanah dan memelihara akad itu wajib, tetapi sering melalaikan dan mengabaikannya.

2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui.

Tidak sedikit orang yang awam agama melakukan banyak hal yang dia sendiri tidak tahu status hukumnya; apakah halal atau haram. Misal: Tidak sedikit Muslim berbisnis saham/valas, melakukan transaksi kredit barang lewat lembaga leasing seperti menjamur saat ini, terlibat dalam bisnis asuransi, menjadi staf keuangan bank berbasis riba, mengadu untung dalam kuis via sms, dll. Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang memandang baik profesi sebagai artis (penyanyi, penari, pemain film/sinetron dll)—yang biasanya akrab dengan atraksi membuka aurat, berkhalwat dan ber-ikhtilat, serta ragam maksiat lainnya; bahkan mereka berlomba-lomba meraihnya. Tidak sedikit pula Muslim yang memandang mulia demokrasi dan HAM, mempraktikkannya, bahkan bangga menjadi pejuangnya. Semua itu mereka lakukan karena mungkin tidak tahu keharamannya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak (haram, pen.).” (HR Muslim).

3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya.

Banyak Muslim/Muslimah yang sadar dirinya awam dalam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama (taffaquh fi ad-din). Mereka seolah enjoy dengan kebodohannya dalam agama. Tidak sedikit pula hal ini melanda para aktivis dakwah. Misal: tidak sedikit aktivis dakwah yang malas belajar bahasa Arab, padahal mereka tahu mempelajarinya sangat urgen dalam upaya memahami agama demi bekal dakwah mereka; bahkan mereka tahu di antara faktor kemunduran umat adalah karena diabaikannya bahasa Arab.

4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya.

Tidak sedikit Muslim yang—karena kesombongannya—menolak ketika orang lain mengajari (baca: mendakwahi)-nya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), “Sombong itu menolak kebenaran.” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Tidak sedikit pula yang enggan belajar kepada orang lain hanya karena orang lain itu lebih muda, karena lebih rendah tingkat pendidikan formalnya, karena dari kelompok/mazhab/harakah/partai yang berbeda, atau karena faktor-faktor lain.

******

Keempat hal di atas memang telah menghancurkan agama pada diri seorang Muslim ataupun di tengah-tengah masyarakat.

Akibatnya nyata: Hukum-hukum Allah dicampakkan dan dijauhkan. Hukum-hukum thaghut diterapkan dan dilestarikan. Kewajiban-kewajiban agama banyak ditinggalkan. Larangan-larangannya sering dilakukan dan bahkan jadi kebiasaan. Yang halal disembunyikan. Yang haram ditonjolkan. Yang sunnah enggan diamalkan. Yang bid’ah malah dibesar-besarkan. Adat menjadi ibadat. Ibadat bercampur dengan khurafat dan maksiat.

Demikianlah, akhirnya Islam sekadar sebutan; al-Quran sekadar jadi bacaan; as-Sunnah pun terlupakan.

Saat itu, sebagaimana isyarat Nabi saw., Islam kembali menjadi sesuatu yang asing, persis sebagaimana awal kedatangannya. Sabda Nabi saw. “Islam mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan nanti akan kembali dianggap asing. Berbahagialah orang-orang yang dipandang asing, yakni mereka yang selalu melakukan perbaikan-perbaikan di tengah-tengah masyarakat yang berlomba-lomba melakukan kerusakan-kerusakan.” (HR Ahmad).

Wama tawfiqi illa billah. [Arief B. Iskandar]

Ditulis dalam nafsiyyah | Bertanda: | Leave a Comment »

Demokrasi Bukan Sampah!!!

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Mei 29, 2008

Siapa bilang demokrasi itu sampah. Silahkan acungkan jempol kakinya yang setuju jika demokrasi itu sampah. Dengan tegas gue berani membantah bahwa demokrasi bukan sampah. Titik.

Eits, jangan protes en motong duluan. Gue berkata begitu bukan karena gue penganut liberalisme atawa kapitalis yang berakar dari asas sekularisme. Sebaliknya gue amat sangat-sangat membencinya. Semuanya adalah bulshit.

Trus, kenapa gue ngga setuju jika dikatakan demokrasi adalah sampah?

Begini, setelah gue telaah dari terminalogi sampah, ternyata sampah bukanlah barang yang tidak berguna. Sampah memang merupakan barang yang dibuang. Namun, ternyata ngga habis disitu saja. Sampah masih bisa di daur ulang untuk dijadikan barang-barang yang berguna. Apakah itu termasuk sampah organik, anorganik, maupun sampah biotik. Semuanya masih dapat didaur ulang dan digunakan untuk kepentingan manusia lagi. Asalkan bukan sampah masyarakat.

Makanya jangan terkejut jika mengetahui barang-barang yang ada dirumah atau dikamar kamu dan yang kamu sering gunakan sehari-hari adalah barang hasil daur ulang dari sampah-sampah tadi. Kesimpulannya sampah merupakan barang yang berguna dan bermanfaat bagi manusia ketika sudah diproses dan dikreasikan.

Hal tersebut jelas sekali berbeda fakta dengan demokrasi. Demokrasi tidak bisa didaur ulang. Jika didaur ulang maka yang terjadi adalah proses tambal sulam dari demokrasi itu sendiri. Ketika ditemukan ada yang kurang cocok lagi, maka akan dirubah dengan yang diperkirakan lebih baik. Artinya kebenarannya tidak bersifat pasti dan kekal. Sangat berbeda jauh dengan sistem islam yang merupakan rahmatan lil alamin dan kebenarannya kekal abadi.

Demokrasi adalah produk yang memang bulshit dan akan selamanya bulshit. Pertanyaannya sekarang adalah kalimat apa yang pantas diberikan untuk demokrasi. Karena sampah pun juga masih tidak pantas diberikan atau disandingkan dengannya. Istilahnya kata sampah jauh lebih mulia dari demokrasi. Perlu sebuah kalimat baru yang lebih dari kata sampah. Nah, kalimat itulah yang gue belum dapet, lo udah dapet ngga? [faritz hadiid]

http://liberationyouth.blogdrive.com/

Ditulis dalam ghazwulfikr | Bertanda: | Leave a Comment »

Renungan…

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Mei 16, 2008

Sebuah tulisan yg sangat menyentuh sanubari, dari majalah Tarbawi, edisi 177. Seperti ini tulisannya :

Taubat kita diterima hanya karena kasih sayang Allah

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ketika seorang hamba yang berlumuran dosa menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, “Wahai Tuhanku.” Maka malaikat buru-buru menghalangi suara orang itu agar tidak sampai ke langit. Begitu si hamba mengulanginya, “Wahai Tuhanku,” malaikat tetap menutupi suara itu. Sampai pada panggilan ke empat, Allah berfirman, “Sampai kapan kalian menghalangi suara hamba-Ku untuk sampai pada-Ku? Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku. Aku penuhi panggilanmu wahai, hamba-Ku.”

Allah kemudian berfirman, “Wahai anak Adam, Aku telah menciptakanmu dengan tangan-Ku. Aku bimbing engkau dengan nikmat-Ku, tetapi engkau menyalahi Aku dan bermaksiat kepada-Ku. Jika engkau kembali pada-Ku maka Aku terima taubatmu. Dimanakah engkau bisa mendapatkan Tuhan seperti Aku? Akulah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah juga berfirman,”Wahai hamba-Ku, Aku telah mengeluarkan kalian dari tidak ada menjadi ada, Aku juga menciptakan untukmu pendengaran, penglihatan dan fikiran. Wahai hamba-Ku, Aku tutupi aibmu tetapi engkau tidak sedikitpun merasa takut kepada_ku. Aku senatiasa mengingatmu, tetapi engkau melupakan-Ku. Aku malu kepada mu, tetapi engkau tidak pernah merasa malu kepada-Ku. Siapakah yang lebih besar kasih sayangnya dari Aku? Siapakah yang pernah datang mengetuk pintu-Ku lalu Aku tidak membukanya untuknya? Siapakah yang meminta kapada-Ku yang tidak Ku beri? Apakah Aku ini Dzat Yang Bakhil sampai hamba-Ku begitu bakhilnya kepada-Ku?

Kepada Daud as, Allah berfirman,” Andaikan orang – orang yang berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, niscaya mereka akan meleleh karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikian lah cinta-Ku kepada orang – orang yang berpaling, maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yang datang kepada-Ku?”

Dari tulisan ini, timbul sebuah kesadaran, bahwa sesungguhnya kita merindukan Dia Yang Maha Pengasih Dan Penyayang, yang rahmatNya tak terbatas. Dia merindukan jiwa-jiwa untuk pulang kepadaNya.

Kehidupan dunia begitu menyilaukan, membuat kesadaran akan adanya Sang Maha Pengatur dan tempat kita akan kembali tersisihkan, namun karena cinta-Nya yang tak terkira, kita masih diberiNya udara untuk hidup, masih diberi rezeki, dan jutaan nikmat yang tak terbatas. Begitu besar cinta-Mu.

Engkau tunjukkan jalan pulang, padahal terkadang Engkau terabaikan, Engkau terangi ruang hati yang gelap, walaupun terkadang Engkau tersisihkan. Astagfirullahal adzim….

Itu tak kan terulang lagi,,

I love You God…

Love You more then everything,,

Bait – bait ini,,untuk Mu, from the deepest of my heart….

With my body……….

Mind……….

And Soul……….

Disetiap langkah ku , ku kan slalu memikirkan diriMu..

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cinta-Mu..

Janganlah Kau tinggalkan diri ku..

Takkan mampu kuhadapi semua..

Hanya bersamaMu ku akan bisa..

Kau adalah darahku..

Kau adalah jantung ku..

Seribu mimpi berjuta sepi hadir bagai teman sejatii

Diantara lelahnya jiwa dalam resah dan air mata

Kupersembahkan kepada-Mu ..

Yang terindah dalam hidupku..

Meski ku rapuh dalam langkah..

Kadang tak setia kepada-Mu

Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu..

Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu

Dalam dada kuharap hanya diriMu yang bertahta..

Ku rindukan sinar suci Mu yang mulia..

Dan kuharapkan belai kasih Mu..

Agar musnah semua keangkuhan diriku..

Dan  kulepaskan dari sifatku..

Ditulis dalam nafsiyyah | Bertanda: | Leave a Comment »