Komunitas Hitam Putih

komunitas yang terbentuk dalam ketiadaannya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘politik’

Penduduk Miskin Indonesia Jadi 40,4 Juta Tahun 2009

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juli 12, 2008

Image

detik

Akibat tingginya inflasi karena kenaikan harga minyak dunia dan bahan pangan, INDEF memprediksi angka kemiskinan pada 2009 akan melonjak lima juta jiwa menjadi 40,4 juta jiwa atau naik 16,8 persen. Namun karena tahun itu Pemilu digelar, angka kemiskinan akan rawan dimanipulasi.

Ekonom INDEF, M Ikhsan Modjo, mengatakan, angka kemiskinan dalam prediksi INDEF dan pemerintah dari kuartal pertama 2007 ke kuartal pertama 2008 relatif sama. Saat itu kemiskinan turun dari 37,7 juta jiwa (16,58 persen) menjadi 35 juta jiwa (15,42 persen). Itu terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu cukup tinggi, 6,4 persen.

Namun tingkat inflasi 2008 ini diperkirakan akan jauh lebih tinggi daripada 2007. APBNP mematok inflasi 7,5 persen, namun hingga semester pertama inflasi versi pemerintah sudah mencapai 11,03 persen. Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi 2008 6,2 persen, sementara INDEF lebih konservatif dengan angka prediksi 5,85 persen.

”Kami perkirakan inflasi tahun ini akan mencapai 12,5 persen. Dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi, kemiskinan 2009 akan melonjak drastis, bertambah lima juta jiwa,” kata Ikhsan dalam diskusi yang digelar INDEF di Jakarta, Kamis (10/7).

Dia juga mengingatkan, prediksi INDEF itu bisa saja berbeda dengan angka resmi pemerintah karena tahun depan sudah digelar pemilu. ”Dengan memakai metodologi yang berbeda, perbedaan angka kemiskinan bisa sampai 1,5 persen,” ujar dia.

Sementara itu, menurut Managing Director Econit Advisory Group, Hendri Saparini, dalam suatu pernyataan sebelumnya, mengatakan, meningginya jumlah angka kemiskinan ini merupakan salah satu hasil yang mengecewakan selama empat tahun pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono. Menurutnya, kehidupan rakyat semakin sulit, daya beli merosot, pengangguran semakin tinggi, dan kemiskinan bertambah.

“Angka kemiskinan meningkat dari 36,1 juta orang (16,7%) pada 2004 menjadi 39,3 juta orang (17,8%) pada 2006, dan 37,17 juta orang (16,58%) pada 2007. Indikator makro ekonomi, baik tahunan maupun lima tahun, berada jauh di bawah target, Pertumbuhan ekonomi, misalnya, hanya 6,4% dalam APBN-P 2008, padahal ditargetkan 6,8% dalam APBN 2008.

Untuk mengerem laju pertambahan penduduk miskin, menurut Ketua Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Mahmud Thoha, dalam pernyataan sebelumnya mengatakan pemerintah seharusnya mendorong sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

“Penyerapan investasi atau Penanaman Modal Asing (PMA) terbukti rendah, karena itu ikutilah jejak Thailand yang bisa menjadi maju karena mengutamakan sektor UMKM-nya,” tegasnya.

Dijelaskannya, pemerintah bisa memenuhi target pertumbuhan ekonominya 6,5 persen pada 2007 dari UMKM, karena dengan pertumbuhan sebesar itu maka diperlukan rasio investasi terhadap PDB sekitar 30 persen.

“Jadi nilai PDB riil 2007 diperkirakan 1.967 triliun karena itu nilai investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 590 triliun, padahal nilai realisasi PMDN dan PMA hingga Oktober 2006 baru mencapai Rp 55 triliun,” imbuhnya. [syarif/dbs/www.suara-islam.com]

Ditulis dalam SosEk | Bertanda: | 1 Komentar »

Pertarungan Islam vs Sekularisme Sekuler

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 22, 2008

Insiden Monas sesungguhnya adalah percikan dari benturan antara arus sekuler dan Islam. Isu Ahmadiyah hanyalah case (kasus) yang mendorong kelompok sekular liberal untuk bergerak memberikan reaksi. Sebelumnya sudah ada beberapa kejadian terkait hal ini.

Pertama: pertentangan dalam isu Rancangan Undang-Undang Pornografi Pornoaksi (RUU APP). Ketika umat Islam mendukung disahkannya RUU APP menjadi undang-undang, kaum liberal justru menentangnya. Hingga kini tidak jelas bagaimana nasib RUU APP tersebut.

Kedua: terkait liberalisasi dalam ekonomi. Pada tahun 2005 beberapa tokoh utama AKKBB masuk dalam daftar nama-nama yang mendukung kenaikan bahan bakar minyak (BBM) lebih dari 100 persen itu. Di tengah rakyat bersama organisasi-organisasi Islam menentang kenaikan BBM dan liberalisasi Minyak dan gas, mereka justru mendukungnya.

Ketiga: ketika MUI dalam Musyawarah Nasional-nya mengharamkan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, ormas-ormas Islam mendukung fatwa tersebut. Sebaliknya, kaum sekular menentangnya.

Keempat: Pada saat mayoritas umat Islam menuntut pembubaran Ahmadiyah karena menyimpang dari Islam, kaum sekular, dengan menggerakkan AKKBB, justru mendukung keberadaannya. Sekalipun telah jelas bahwa masalah Ahmadiyah adalah masalah penodaan dan penistaan agama Islam, tetap saja isu yang diusung adalah kebebasan beragama.

Setelah terjadinya Insiden Monas, dengan memanfaatkan media massa cetak dan elektronik, mereka melakukan penyesatan opini bahwa telah terjadi penyerangan terhadap massa AKKBB oleh massa FPI dan telah timbul korban di antaranya anak-anak, perempuan, orang cacat dan kyai. Padahal faktanya tidak terjadi sama sekali penyerangan terhadap anak-anak, perempuan dan orang cacat itu.

Bahkan isu beralih seakan menjadi pertentangan antara FPI dengan kaum Nahdliyin (NU). Untungnya, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi segera menyatakan bahwa NU tidak terlibat dalam Insiden Monas itu sehingga pertentangan tidak berlanjut.

Anehnya, Insiden Monas telah mengundang reaksi internasional. PBB sampai harus mengirim surat khusus untuk mempertanyakan insiden tersebut. Kedutaan AS juga memberikan reaksi khusus dengan mengunjungi korban dan membuat konferensi pers khusus. Hal semacam ini tampaknya memang dikehendaki oleh kelompok liberal. Bahkan boleh jadi, sebagaimana disinyalir beberapa kalangan, Insiden Monas memang direkayasa pihak asing dengan memanfaat kelompok tersebut.

Jadi, apa yang tengah terjadi adalah pertarungan antara Islam dengan sekularisme. Waspadai Arus Sekularisasi dan Liberalisasi! Terbitnya SKB sendiri terkesan merupakan ‘kompromi’ akibat pertarungan kaum sekular-liberal dengan umat Islam.

Di satu sisi, umat Islam dengan serangkaian demontrasinya begitu lantang menyerukan pembubaran Ahmadiyah. Di sisi lain, kaum sekular-liberal¡½dengan dukungan media sekular dan asing¡½terus-menerus memprovokasi umat Islam dan menekan Pemerintah untuk tidak membubarkan Ahmadiyah.

Kerasnya kelompok sekular-liberal dan semakin beraninya mereka menyuarakan liberalisasinya di Indonesia seharusnya semakin menyadarkan umat Islam betapa semakin lama mereka bisa semakin kuat jika dibiarkan. Pasalnya, mereka didukung penuh Barat. Bahkan mereka sesungguhnya hanyalah alat Barat. Sebabnya, setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Islam dipandang musuh Barat berikutnya setelah runtuhnya Komunisme.

Karena itulah, berbagai upaya dilakukan Barat untuk ‘menjinakkan’ dan melemahkan Islam. Salah satu adalah dengan melakukan liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan Dunia Islam lainnya. David E. Kaplan menulis, AS telah menggelontorkan dana puluhan juta dolar dalam rangka kampanye untuk mengubah masyarakat Muslim sekaligus mengubah Islam itu sendiri.

Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).

Sejumlah LSM juga dijadikan alat Barat untuk menikam Islam dan kaum Muslim. Salah satu lembaga asing yang sangat aktif dalam menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme agama di Indonesia adalah The Asia Foundation (TAF). The Asia Foundation saat ini mendukung sekaligus mendanani lebih dari 30 LSM yang mempromosikan nilai-nilai Islam ‘liberal’, di antaranya:

1. Yayasan Desantara,

2. Fahmina Institute,

3. International Center for Islam Pluralism (ICIP),

4. Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP),

5. Institut Arus Informasi (ISAI),

6. Jaringan Islam Liberal (JIL),

7. Paramadina,

8. Pusat Studi Wanita-UIN,

9. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), dan

10. Wahid Institute. (Husaini, 2007)

Lebih dari itu, kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat (Republika, 3/12/2005).

Umat Harus Bersatu

Menghadapi menguatnya arus liberalisasi di Indonesia akhir-akhir ini, yang puncaknya adalah pembelaan mati-matian kelompok sekular-liberal terhadap Ahmadiyah hingga kemudian memicu Insiden Monas, dalam sebuah wawancaranya, Juru Bicara Hizbut Tahrir.

Indonesia Ustadz Ismail Yusanto mengingatkan adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha memecah-belah umat Islam dengan memanfaatkan Insiden Monas ini. “Nah, umat Islam, ormas Islam dan tokoh-tokohnya harus bersatu-padu, dan tidak boleh bercerai-berai, ” ujar Ustadz Ismail. (Hizbut-tahrir.or.id, 9/6/2008).

Persatuan umat Islam, selain jelas diperlukan, juga diwajibkan oleh syariah. Allah SWT berfirman: “Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS Ali Imran: 103).

Umat Islam tidak hanya dituntut bersatu memegang teguh agama Allah, tetapi juga bersatu dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah orang-orang kafir yang saat ini gencar melakukan liberalisasi di tengah-tengah kaum Muslim di segala bidang: agama, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, kebudayaan dll. Karena itu, umat Islam harus selalu waspada, karena Allah SWT telah memperingatkan: “Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti agama/jalan hidup mereka” (QS al-Baqarah: 120).

http://www.eramuslim.com

Ditulis dalam ghazwulfikr | Bertanda: | Leave a Comment »

Membedah Jantung AKKBB (Tabloid Suara Islam Edisi 46)

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 22, 2008

Kapolri Jenderal Pol Sutanto menyebut Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) adalah biang insiden Monas. Mereka inilah yang memancing situasi panas sehingga memunculkan konflik itu. Mereka tak mempedulikan peringatan polisi agar tidak menuju Monas, karena toh mereka tidak memiliki izin ke sana. Namun begitu insiden itu terjadi, mereka berteriak lantang bahwa Front Pembela Islam yang salah.

Siapa sih AKKBB itu? Aliansi ini adalah kelompok makar orang-orang kafir dan liberal terhadap Islam. Mereka menghalalkan segala cara. Menipu pun boleh asalkan sesuai kepentingan. Lihat saja ketika ditemukan foto Munarman sedang mencekik orang, orang itu langsung diakui sebagai anggotanya. Foto yang bisa membunuh karakter Munarman itu pun disebar tanpa dicek terlebih dahulu. Media massa pendukung AKKBB seperti Koran Tempo, Jawa Pos, dan beberapa televisi yang selama ini tak suka kepada Islam (SCTV, Metro TV) langsung menayangkan gambar itu. Seolah media massa itu tak tahu lagi kode etik jurnalistik. Nyatanya, berita itu salah.

Media ada yang meralat, tapi kecil. Jantung aliansi ini adalah kalangan liberal yang berkolaborasi dengan Ahmadiyah, Kristen, Hindu, penganut kepercayaan. Mereka selama ini dikenal dekat dengan Amerika Serikat. Sepak terjangnya bisa dilihat dari jargon-jargon yang dibawanya yakni HAM, demokrasi, gender, antikekerasan, pluralisme, sekulerisme, dan liberalisme.

AKKBB beroperasi untuk menghadang munculnya Islam ke dalam kancah kehidupan. Mereka inilah yang punya andil dalam menentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Mereka jualah yang menentang habis berlakunya Perda bernuansa Syariah di beberapa daerah, meskipun Perda tersebut adalah keinginan mayoritas masyarakat.

Orang-orang AKKBB inilah yang punya andil besar mengacak-acak sistem perundang-undangan Indonesia dan mengubahnya sesuai dengan keinginan Barat (baca: AS) dan perusahaan multinasional. Mereka kebanyakan adalah lulusan Amerika, sebagian Eropa, serta orang yang selama ini menggantungkan hidupnya pada bantuan asing. LSM dan ormas tersebut dikenal mempunyai program-program yang didanai oleh USAID, Asia Foundation, Ford Foundation, AusAID, dan TIFA. Seperti ungkapan orang bule: ”Tidak ada makan siang gratis”, mereka menerima dana dari luar negeri tentu dengan pamrih tertentu.

Sebagian orang-orang AKKBB ada yang dulu mendukung kemerdekaan Timor Timur. Saat itu mereka bergabung dengan Solidamor. Bagi mereka hak menentukan nasib sendiri dijunjung-junjung. Tapi anehnya ketika umat Islam ingin agar syariat Islam diterapkan, mereka dengan sekuat tenaga menghalanginya. Inilah yang sebenarnya bisa membuka kedok mereka bahwa apa yang mereka lakukan, tujuannya hanya satu yakni menghalangi umat Islam melaksanakan syariatnya.

Di balik aksi AKKBB ini akhirnya terlihat ada kepentingan asing. Indonesia dalam kondisi terjajah dengan model baru. Para penjajah tidak datang langsung tapi menggunakan antek-anteknya di negeri ini. Penjajahan itu berlangsung secara sistematis. Korbannya adalah masyarakat yang notabene adalah umat Islam. Oleh karena itu, AKKBB adalah pihak yang punya andil merusak negeri ini. Haruskah dibiarkan mereka menyebarkan virus-virus kesyirikan dan kemunafikan di negeri yang mayoritas Muslim ini?

http://www.suara-islam.com/

Ditulis dalam ghazwulfikr | Bertanda: | Leave a Comment »

Oo… Ternyata Pemerintah Berbohong…

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Juni 7, 2008

Pemerintah selama ini menyatakan kita net impor sehingga dampak kenaikan harga minyak mentah dunia berakibat pada bertambahnya beban subsidi. Bahkan beberapa waktu yang lalu presiden SBY mengatakan mempertimbangkan agar Indonesia keluar dari OPEC dengan alasan produksi minyak Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan minyak nasional lagi. Benarkah? Teryata data dari Departemen ESDM berikut menunjukan sebaliknya. Pemerintah berbohong? Untuk apa berbohong?

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

Demokrasi Bukan Sampah!!!

Ditulis oleh komunitashitamputih di/pada Mei 29, 2008

Siapa bilang demokrasi itu sampah. Silahkan acungkan jempol kakinya yang setuju jika demokrasi itu sampah. Dengan tegas gue berani membantah bahwa demokrasi bukan sampah. Titik.

Eits, jangan protes en motong duluan. Gue berkata begitu bukan karena gue penganut liberalisme atawa kapitalis yang berakar dari asas sekularisme. Sebaliknya gue amat sangat-sangat membencinya. Semuanya adalah bulshit.

Trus, kenapa gue ngga setuju jika dikatakan demokrasi adalah sampah?

Begini, setelah gue telaah dari terminalogi sampah, ternyata sampah bukanlah barang yang tidak berguna. Sampah memang merupakan barang yang dibuang. Namun, ternyata ngga habis disitu saja. Sampah masih bisa di daur ulang untuk dijadikan barang-barang yang berguna. Apakah itu termasuk sampah organik, anorganik, maupun sampah biotik. Semuanya masih dapat didaur ulang dan digunakan untuk kepentingan manusia lagi. Asalkan bukan sampah masyarakat.

Makanya jangan terkejut jika mengetahui barang-barang yang ada dirumah atau dikamar kamu dan yang kamu sering gunakan sehari-hari adalah barang hasil daur ulang dari sampah-sampah tadi. Kesimpulannya sampah merupakan barang yang berguna dan bermanfaat bagi manusia ketika sudah diproses dan dikreasikan.

Hal tersebut jelas sekali berbeda fakta dengan demokrasi. Demokrasi tidak bisa didaur ulang. Jika didaur ulang maka yang terjadi adalah proses tambal sulam dari demokrasi itu sendiri. Ketika ditemukan ada yang kurang cocok lagi, maka akan dirubah dengan yang diperkirakan lebih baik. Artinya kebenarannya tidak bersifat pasti dan kekal. Sangat berbeda jauh dengan sistem islam yang merupakan rahmatan lil alamin dan kebenarannya kekal abadi.

Demokrasi adalah produk yang memang bulshit dan akan selamanya bulshit. Pertanyaannya sekarang adalah kalimat apa yang pantas diberikan untuk demokrasi. Karena sampah pun juga masih tidak pantas diberikan atau disandingkan dengannya. Istilahnya kata sampah jauh lebih mulia dari demokrasi. Perlu sebuah kalimat baru yang lebih dari kata sampah. Nah, kalimat itulah yang gue belum dapet, lo udah dapet ngga? [faritz hadiid]

http://liberationyouth.blogdrive.com/

Ditulis dalam ghazwulfikr | Bertanda: | Leave a Comment »